Hanya manusia pemikir yang malas membaca lebih senang bercerita. Jangan bermaksud mencari ilmu pengetahuan. Hanya melayani obral omongan...
Tentang Pertemanan
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
-
Hai kembali lagi di NulisFeeling ini adalah episode
kedua setelah yang pertama, haha. Selamat Membaca.
Ilfeel (Ilang Feeling) bukan hanya sekedar kita dalam keadaan
situasi yang merasa iyuh dengan situasi tersebut dan keadaan yang kita pandang
menjijikan buat kita. Masalahnya adalah kehilangan feel, kehilangan rasa, entah
seperti apa kita menjadi biasa saja menyikapi situasi yang sedang terjadi atau
sudah merasa sangat kecewa dengan suatu hal.
Hal ini sedang dan lagi-lagi aku hadapi, 20 tahun hidup memberi
arti dan pelajaran yang banyak mengenai segala sesuatu yang terjadi, termasuk
berteman. Sejak Taman Kanak-kanak aku terbiasa menjadi pribadi yang banyak
disukai, anak berumur 4 tahun yang pada masanya hanya tahu menahu tentang
bermain, aku sudah lekas menjadi gadis kecil yang sudah sangat fasih berbicara,
membaca, menulis bahkan didekte. Aku yang lahir lalu dibentuk menjadi anak yang
pintar banyak disukai dan disenangi oleh teman termasuk wali murid. Sanjungan,
pujian dan segala ungkapan kekaguman lain sudah terbiasa mengisi hari-hariku
sejak kecil.
Lalu beranjak hingga Sekolah Dasar, menjadi murid teladan yang
bahkan hampir tidak pernah remidi selama 6 tahun adalah karya terbesar mami
saat itu, namun ternyata walau kami masih duduk di sekolah dasar kami punya
konsep pertemanan. Aku dijauhi hampir satu kelas saat duduk dibangku kelas 6,
hanya beberapa teman yang masih sudi bermain lempar genting dan bergaul
denganku. Entah permasalahannya apa, aku sungguh tak paham. Padahal saat itu
aku benar-benar ingin tetap menjalin hubungan pertemanan mengingat 6 tahun
bukan waktu yang sebentar. Tapi mereka tak pernah paham. Konsep geng-gengan
saat SD menjadi tembok besar bagiku. Aku hancur kala itu, aku menangis, aku
menjadi sosok yang lemah karena kesendirianku. Hingga akhirnya mami sempat
memberi wejangan bahwa aku tidak akan pernah bergaul dengan mereka lagi,
anak-anak desa, aku akan bersekolah disekolah bergengsi, masuk sekolah favorit
yang orang desa tidak akan pernah ada yang masuk kesana lagi. Tuhan menjawab
itu. aku masuk di sekolah favorit, bergengsi, teman-temanku mayoritas anak
pejabat, urbanisasi mungkin tepat disebut.
Kukira semua akan selesai, tidak!. Aku mengalami fase konsep
pertemanan yang lain, geng-gengan lagi. Ternyata bukan hanya hewan saja yang
hidup berkawan, manusiapun juga. Aku sungguh merasa sangat heran bahwa
pertemanan yang aku kira akan menjadi sangat mengasyikan mengingat aku tidak
lagi berkawan dengan teman desa ternyata hanya hayalan. Aku tidak akan menyebut
korban, namun aku merasa Its a bullying. Aku tidak menemukan ketulusan sama
sekali, selalu saja ada konotasi lain setiap mereka dekat dengan ku. Hal ini
sudah kujelaskan dipostinganku yang bullying, konsep berteman entah aku
menyebutnya apa, berteman dengan kriteria orang yang mereka ajak berteman itu
setipe membuatku merasa bahwa masa SMP adalah bagian kelam lain setelah masa
SDku.
Karena nilaiku jelek, aku masuk di Madrasah. Sekolah yang sama
sekali tidak masuk dalam wish listku, termasuk harus menghadapi kemarahan mami
karena aku tidak masuk sekolah favorit lagi. Tapi justru ini menjadi tonggak
pertamaku, aku mengalami peningkatan di kondisi otak sekaligus mentalku. Aku
menemukan teman yang sungguh membuatku merasa nyaman berdekatan dengan mereka.
Bahkan pertemanan itu masih saja berlangsung meski kami sudah tidak satu
sekolah lagi. Aku punya pengalaman berteman sangat dekat, bersahabat dan
berkeluarga dengan para guru. Tapi ternyata itu bukanlah akhir dari semua ini.
Sama saja. Memang bukan geng-gengan tapi tak lantas membuat mereka adalah orang
yang selalu ada. Kami yang sudah tidak bertemu lagi hanyalah sekedar teman
reuni, yang ngobrol dan ketemu kalau direncanakan.
20 tahun, aku masuk perguruan tinggi Islam, UIN. Bagi
kebanyakan orang UIN bukanlah sesuatu yang sangat patut menjadi rencana kuliah
yang utama. Aku berteman dengan orang-orang yang biasa saja secara pergaulan,
kami tidak pernah nongkrong di cafe, atau yang hampir setiap minggu pergi ke
mall. Kami merupakan satu dari perkumpulan mahasiswa kurang gaul, yang senang
mengkritik namun lebih senang diam dan tak pandai bergaul. Itu sisi lain yang
kurasa setelah duduk dibangku kuliah. tapi lagi-lagi, konsep berteman selalu
berbeda setiap jenjang. Mungkin bagi kriteria berteman dikampus kami cocok,
tapi ternyata urusan kuliah kami bersaing. Entah mengapa aku menjadi sangat
benci engan hal tersebut, memang bukan masalah, namun sungguh aku kurang
menyukai bahwa kami berteman dan kami kompetitif satu sama lain.
In the end of the story, teman bukanlah temanmu. Kita boleh
berekspektasi setinggi mungkin dengan yang namanya teman, namun yang selalu ada
hanya kita, diri kita dan Tuhan. Bahkan keluarga yang notabenenya tinggal
seatap dengan kita 24 jam belum tentu paham dan selalu ada buat kita. Kita
tidak akan pernah menemukan teman yang 100% cocok dengan diri kita, yang ada
hanyalah kita yang sering kali salah menerjemahkan sesuatu dengan konsep kita
masing-masing. Aku selalu ingin memberikan yang terbaik kepada orang lain agar
mereka tahu jika kita ada untuk mereka, namun jatuhnya kita yang berharap
mereka akan membalas apa yang kita beri. Tetaplah kuat meskipun kita harus
selalu ada untuk diri kita sendiri, berusahalah menjadi yang terbaik menjadi
diri kita, agar kita tak usah berharap orang lain akan paham dengan diri kita,
selfish sih. Tapi yakinlah, itu lebih sehat daripada kita selalu dipatahkan
oleh ekspektasi.
Komentar
Posting Komentar